Super Mummy

Sebuah puisi yang kubuat khusus untuk kubacakan di depan ibu-ibu hebat, terkhusus ibuku. Hari itu, 22 Desember 2016, hari ibu nasional yang sengaja dipilih sebagai Perayaan Hari Natal Ibu-Bapak di gerejaku. Aku seorang anak rantau, yang di tahun itu bisa pulang ke rumah dan merayakan natal dengan keluarga tentu tak mau melewatkan momen berharga, sebab alasan perkuliahan yang tak pernah memberi restu untuk pulang di akhir tahun.
Sebelum aku pulang, aku siapkan rangkaian bunga mawar merah palsu untuk ibu. Biasanya aku pulang dengan membawa koper atau tas kecil. Namun, kali itu berbeda. Kukeluarkan koper besar yang sudah kusimpan cukup lama di kamar kosku karena jarang dipakai. Kumasukkan bunga itu tadi ke dalam koper besar itu dan barang-barangku yang lain di dalam tas kecil lain yang terpisah. Ini janggal dan tidak praktis sama sekali, seperti yang biasa kulakukan. Tapi, apapun demi keutuhan bunga itu.
Di 22 Desember itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku memberikan bunga pada ibu dan pertama kalinya aku menghadiahinya sesuatu di hari ibu. Diam-diam aku bawa bunga itu ke gereja tanpa sepengetahuan orangtuaku. Dan masih tanpa sepengetahuan mereka, aku mondar-mandir ke belakang gereja, menemui panitia hanya untuk memohon diberi waktu tampil sebentar.
Tepat saat semua acara selesai dan semua orang riuh beranjak hendak pulang, aku mulai membacakan puisiku, bait demi bait, dengan kalimat yang patah karena menahan tangis, hingga pandangan kabur karena terhalang air mata yang akhirnya tidak bisa kubendung. Walau sedikit kecewa karena tak banyak yang melihatku malam itu, tapi tak apa selama pusat duniaku ada disitu mendengarkannya. Kuucap larik terakhir, lalu lari mengambil bunga dan menghantarnya ke ibuku yang masih duduk di deretan bangku tengah dengan teman-temannya. Kupeluk ibuku sambil menangis dan dia pun sama. Aku bangga, saat teman-teman ibuku kemudian menyalamiku dan menatapku haru.
Aku tak peduli saat ibu-ibu lain melenggak pergi di detik aku mengucapkan judul puisiku. Karena inti dari sajakku ialah ibuku dan ibuku duduk mendengarkan dengan mata berkaca-kaca sambil sesekali berbincang dengan temannya yang mungkin menanyakan tentang aku. Aku bangga membuat ibuku dipandang oleh teman-temannya sebagai ibu yang berhasil membesarkan anak seromantis aku. Mungkin puisi ini bukanlah puisi dengan kata-kata terbaik yang pernah kupunya. Namun, puisi ini ialah satu-satunya yang kubuat menyampaikan cinta yang tak pernah kuungkap dan dengan sangat sederhana membuatku sangat bergetar.
Oh iya, omong-omong aku selalu bangga saat bertukar cerita dengan temanku tentang orangtua. Hal yang selalu kuucap ialah tentang ibu yang tak pernah sekalipun membekaskan luka di badan pun di hatiku, tidak pernah ibu memukulku, bahkan memarahi pun sangat amat jarang. Ibuku berhati amat lembut dan punya sabar yang lebih tabah dari hujan bulan Juni.

Foto ini diambil setelah sampai di rumah
Baju udah diganti karena waktu itu kita pulangnya kena hujan

Goresan Cinta untuk Ibu
Hari ini datang lagi
Untuk kesekian kalinya di hidupmu tanpa ku pernah berikan sesuatu
Maka di natal malam ini tegak ku berdiri
Di hadapan para ibu yang berdandan cantik dan sangat ayu
Tampak garis kerutan di balik sapuan riasan yang tak rapi
Hasil berdandan sendiri karena uang yang ada lebih baik aku yang gunakan katamu
Namun bak biasanya engkau tetap serupa bidadari

Setiap cinta yang kau torehkan
Tak pernah gagal guratkan lengkungan di bibir setiap insan
Setiap peluh yang aliri dahimu
Selalu berhasil membuat satu permintaan adinda terkabul
Dan setiap genangan air di pelupuk matamu
Bak tinjuan keras tepat di kelopak mata

Ibu, kalau aku boleh mengenal ceriamu
Maka ijinkan pula kupahami lukamu
Tentang apa yang sendukan hatimu
Atau apa yang harukan sukmamu
Agar kutahu, adakah aku penyebab kabut di matamu

Kalau tawaku itu tercipta karenamu
Maka kau perlu tau tangisku juga hadir olehmu
Bukan, bukan karena kau buatku luka
Tapi karena kusadar airmatamu lebih banyak tumpah karenaku
Dengan di bawah kendali otakku, aku tak pernah mampu cukup berhasil membalasmu walau hanya seperseribu pun

Ibu andai yang kulakukan cukup berhasil sampaikan rasa di hatiku yang tak pernah lewat dari bibir
Namun selalu saja egoku merusakkannya
Ibu kalau yang kau minta kata-kata cinta
Itulah yang tak pernah lolos keluar dari lidahku
Bukan hal sulit kurasa
Hanya aku terlalu malu ungkapkannya

Mentari telah tepat di atas kepalaku
Dan masa depan kian nyata di depan mata
Sementara harimu semakin senja
Kusadari dialog yang kita berdua lakonkan semakin minim
Dengan beralaskan cita-cita aku mengelak
Impianku kujadikan tameng melangkah menjauh

Kalau yang sekarang kubisa hanya menuntut rupiah
Kalau yang aku mampu hanya angka 6
Semoga sujudmu kelak diaminkanNya
Kau akan kenakan kebaya terbaikmu di acara wisudaku

Ibu, berapa waktu lagikah dapat kita tata bersama?
Adakah sabarmu sirna atas anak nakal ini?
Berapa banyak doa lagikah masih akan terus kau gumamkan?
Adakah aku layak terima restumu?
Kalau ada kata di atas terimakasih, maka itulah yg layak kau terima
Sepahit apapun rasa yang tercipta, kau selalu jadi yang terbaik
Karena seorang ibu ialah rekan sejiwa terdekat bagi semua anak

Selamat hari Ibu, para wanita hebat
Segala tugasmu ialah mulia, pun cintamu ialah kurnia


Hari ini hari Sabtu. Hari ini 28 April. Hari ini bukan hari ibu. Hari ini hanya hari ibuku.
Selamat ulangtahun inti duniaku!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhirnya Bisa Liburan Tanpa Pegal dan Tanpa Takut Jatuh Miskin